Translate

Kamis, 24 Januari 2013

Antara Cita-cita dan Cinta


Hari ini adalah hari biasa,yah, hari Senin yang membosanakan. Hari dimana Adam masuk sekolah full sampai jam 3 sore, setelah itu ia masih mengikuti les pelajaran di salah satu bimbel di kota Malang, tempat ia tinggal, setelahitu ia masih mengikuti les pruvate bahasa Inggris di rumahnya, benar-benar hari yang membosankan baginya, hari yang dipenuhi pelajaran dan tidak ada satu kata pun tentang BOLA hal yang sangat Adam sukai, memang Adam adalah seseorang yang sangat menggilai bola, cita-citanya adalah menjadi pemain timnas Indonesia, tetapi selalu tidak ada kesempatan untuknya “Dam, nanti pulangsekolah bisa main bola?” kata Rama teman Adam “Bisa donk kenapa enggak?” respon cepat Adam
            “Teett.. teett.. teett..” bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, Adam segera bergegas meninggalkan kelasnya, “Hey.. Adam!!” sapa seorang perempuan kepada Adam, “Hei!! Eh kamu shin!!”, jawab Adam, “ kamu bisa temenin aku cari buku nggak”ajak prempuan itu, di dalam hati Adam berkata “ ini adalah pilihan yang sulit”, karena ia harus memilih antara kegemarannya atau cintanya, yah, karena perempuan yang mengajak ia mencari buku itu ternyata Shinta, kekasih Adam. “Hey.. kok bengong sih?” teriak Shinta kepada Adam, “oh.. oh.. ya sorry “ jawab Adam kaget, Adam berkata dalam hati “kali ini aku mau nemenin Shinta cari buku, kasihan Shinta tawarannya terlalu sering aku tolak, karena alasan bermain bola”, “oke Shin aku mau nemenin kamu” kata Adam.
            “kring.. kring..” bunyi handphone Adam, “bentar ya Shin aku angkat telepon dulu” kata Adam kepada Shinta, “oke, silahkan” Jawab Shinta, “Hallo..” kata Adam dalam telepon, “Hallo, Dam, sorry nomer ku ganti, ini aku Rama, kamu dimana sih? Katanya mau main bola?”Jawab Rama, “Aduh Ram sorry banget ya, aku nggak bisa!!” kata Adam, “Loh kenapa? Katanya bisa?” tanya Rama, “duh sorry, aku ada acara sama Shinta, kasihan dia” terang Adam
“yaudah deh kalo gitu” jawab Rama pasrah.
            Hari ini, hari yang cukup menyenangkan, hari ini ada pertandingan antara tim sekolah Adamdan Sekolah sebelah, memang hari ini Adam sedikit tidak fit, karena kemarin setelah mengantar Shinta mencari buku, pulangnya kehujanan, tapi karena Adam sangat mencintai Shinta, ia rela mengantar Shinta sampai rumah, padahal jarak antara rumah Adam dan Shinta ukup jauh, tapi karena Adam takut terjadi apa-apa dengan Shinta, ia anatar sampai rumah, selain karena faktor kehujanan, jadwal Adam yang padat juga mempengaruhi. Pertandingan pun dimulai, walaupun ia tidak fit, tetapi ia berhasil mencetak goal pada menit ke 20, pertandingan selesai tim dari sekolah Adam menang 2-0, “Dam kamu mau pulang bareng nggak?” ajak Rama, “enggak, makasih” jawab Adam datar, “Dam..” sapa pak Danang pelatih tim sepakbola sekolah Adam, “iya pak? Ada apa?” jawab Adam tak bersemangat,”kesini sebentar” suruh pak Danang, “Ada apa pak?”tanya Adam, “Dam.. saya tahu, kamu sedang tidak fit, tapi penampilan kamu seperti, orang
sehat, penampialn kamu sangat bagus, saya meminta waktumu sebentar, intinya untuk menawarimu mengikuti seleksi U-16 di Jakarta” Tawar pak Danang’ “Hah? Me.. mengikuti seleksi timnas pak?” jawab Adam seakan tak percaya, “iya!!” sahut pak Danang, “bagaimana? Mau tidak?”tambah pak Danang, “mau pak” jawab Adam girang, memang inilah cita-cita Adam selama ini menjadi pemain timnas, dan sebentar lagi akan terwujud, “Ini saya kasih formulirnya kamu minta persetujuan orang tua dulu, ini juga ada kolom untuk tanda tangan orang tua, sebagai bukti kalau orang tua kamu menyetujui”kata pak Danang
            Adam lari dari lapangan tempat ia bertanding tadi menuju ke rumah. Sesampainya di rumah ia langsung berteriak “Bu.. ibu..”, “iya? Ada apa?” jawab ibu, “bu saya di tawari pelatih saya untuk mengikuti seleksi timnas U-16 di Jakarta, apakah ibu setuju?”tanya Adam, “Alhamdulillah, benarkah? ibu sangat setuju sekali Dam!! Ibu sudah menyetujuinya, tinggal kamu, mau tidak? Juga persetujuan dari bapak!!” terang Ibu Adam, “kalau Adam sudah pasti mau bu, itukan memang cita-cita Adam dari kecil, tinggal persetujuan dari bapak”kata Adam. Siang hari setelah pulang sekolah, Adam berniat meminta izin kepada bapak Adam, kebetulan bapak Adam sedang berada di ruang keluarga, tempat yang pas untuk berbicara, “pak?” panggil Adam, “ya, Adam ada apa?” jawab bapak Adam, “gini pak, Adam di tawari sama pak Danang untuk mengikuti seleksi timnas U-16, apa bapak mengizinkan Adam?” tanya Adam serius, “kalau bapak sih setuju saja, tapi kau pikirkan matang-matang dulu, pikirkan kekurangan dan kelebihannya, banyak mana antara kelebihan dan kekurangannya” saran bapak, mendengar perkataan bapak, Adam langsung teringat sama Shinta, dia berfikir apakah Shinta akan mengizinkannya? Adam berniat mengatakan ini kepada Shinta esok hari.
            Keesokan harinya, Adam menghampiri Shinta mencoba mengatakan seadannya kepada Shinta, “Shin?” sapa Adam pelan, “iya, ada apa kok tumben pagi-pagi gini ngajak bicara, biasanya sibuk ngomongin bola?” kata Shinta sedikit menyindir, “mmm.. gini Shin, aku mau ikut seleksi timnas U-16 di Jakarta kamu mau ngizinin aku?”, tanya Adam, “Ha? Di Jakarta?Jauh banget? Terus kamu bakalan ninggalin aku gitu aja? Aku sih terserah kemu aja!! Kalo kamu tega ya silahkan!!”kata Shinta sedikit berteriak, “bukannya aku tega ninggalin kamu, tapi ini demi cita-cita aku!!” terang Adam, “terserah!! Aku males sama kamu!!” bentak Shinta, “Shin!!” kejar Adam,
            Saat istirahat tiba, “Adam?” sapa pak Danang, “iya pak?” jawab Adam, “bagaimana kamu sudah izin sama orang tua?” tanya pak Danang, “sudah pak, orang tua saya juga mengizinkan”jawab Adam tegas, “nah, bagus, mana formulairnya?” tanya pak Danang meminta formulir untuk seleksi timnas U-16, “mmm.. belum saya isi pak” jawab Andi ragu, padahal formulirnya sudah di isi tetapi dia masih teringat Shinta, sayang sekali jika mereka putus hubungan, karena mereka sudah menjalin hubungan hampir 2 tahun, “loh!! Gimana sih!! Kamu harus mengumpulkan paling lambat hariini!!” bentak pak Danang mengagetkan Adam,”i.. iya pak, nanti saya kerumah bapak mengumpulkan formulir” jawab Adam gemetar, “oke, saya tunggu jam 3 sore nanti, karena kamu besuk lusa harus berangkat!!” terang pak Danang.
2 hari kemudian.. “kring.. kring..” handphone Shinta berbunyi, “Adam? Ngapain dia nelfon aku?” celetuk Shinta, “angkat nggak ya? Males ah.. paling dia ngomongin tentang seleksi timnas di Jakarta” tambah Shinta. “Loh.. kok nggak di angkat sih?” kata Adam, padahal setengah jam lagi Adam harus berangkat ke Jakarta, ia coba menelepon Shinta lagi bermaksud meminta izin, tetapi tetap tidak di angkat,
Adam yang akan berangkat ke Jakarta sebentar lagi bergegas lari ke toko cokelat berniat membeli cokelet untuk Shinta, ia juga menulis surat untuk Shinta sebagai permohonan maaf, lalu ia langsung ke rumah Shinta, “tok.. tok.. tok..” Adam mengetuk pintu rumah Shinta, “permisi” tambah Adam, “iya?, eh, Adam, ada apa?”jawab kak Cinta, kakak Shinta, “kak, ini ada titipan buat Shinta, aku sekitar 15 menit lagi akan berangkat ke Jakarta, untuk mengikuti seleksi timnas U-16”terang Adam, “oh.. selamat berjuang ya Dam, kenapa harus kamu titipin? Kenapa kamu nggak ketemu langsung?” tanya kak Cinta, “tadi aku udah coba nelpon Shinta, tapi nggak diangkat, yaudah saya beliin cokelat saja sama ada suratnya” kata Adam, “loh? Kenapa ngaak diangkat?” tanya kak Cinta lagi, “aku sama Shinta lagi ada masalah kak, Shinta nggak ngizinin aku ikut seleksi timnas U-16” terang Adam, “oh.. ya kak aku nggak bisa lama-lama titip salam buat Shinta aja ya kak!!” pinta Adam, “iya deh” jawab kak Cinta
            Kak Cinta langsung masuk ke dalam rumah’ “Shinta!!” teriak kak Cinta, “apaan sih kak? Teriak-teriak!!” kata Shinta, “kamu ini apa-apaan? Kamu ada masalah kan sama Adam?” tanya kak Cinta yang sebenarnya sudah tahu, “kakak tahu dari mana?” tanya Shinta, “asal kamu tahu ya, tadi Adam kesini nitipin ini buat kamu, katanya tadi Adam udah nelfon kamu, tapi kamunya nggak angkat, kalian itu kenapa sih” terang kak Shinta, “aku sebel kak!! Habisnya dia mau seleksi ke Jakarta ninggalin aku gitu aja!!” kata Shinta, “heh!! Denger kakak!! Dia ke Jkarta itu bukannya tega sama kamu, tapi dia kesana itu buat kepentingan bersama, bukannya tega ataupun egois” tegur kak Cinta, “dia itu ke Jakarta buar kepentingan selain mewujudkan cita-cita, juga buat bangga kamu!! Emangnya kamu nggak bangga kalo punya pacar pemain bola, dia juga mau mengharumkan nama Indonesia!! Asal kamu tahu ya padahal dia ma berangkat, tapi dia sempet-sempetin kesini!! Tambah kak Cinta, “nih dari titipan dari Adam!! Jangan sampai kamu buang!!” tambah kak Cinta lagi.
            Shin.. maafin aku ya, udah ke Jakarta ninggalin kamu, tapi ini bukan untuk kepentingan aku doank, Shin sekali lagi aku mita maaf ya, kalo kamu mau mutusin aku nggak papa kok, aku ikhlas, oh iya.. ini ada cokelat kesukaan kamu yang aku beli baru aja, aku beli pake uang saku aku buat di Jakarta, karena aku tahu maumu, dalam hubungan kita, kita janji nggak akan nyusahin orang tua, mangkannya aku pake uang saku aku, tapi satu hal yang aku minta!! Jangan lupain aku ya!!.

                                                            Salam
                                                            Adam
Itulah isi surat Adam untuk Shinta, tak di sangka Shinta pun mulai menitikkan air mata, “ternyata bener kata kakak, Adam ke Jakarta bukan karena tega, Adam terlalu baik untukku, dia sempet-sempetnya nulis surat buat aku, dan beliin cokelat kesukaanku pakai uang saku dia lagi, padahal cokelatnya kan mahal” celoteh Shinta dalam hati.
            Adam sedang mandi, hingga ia tak sempat mengangkat telepon dati Shinta “kring.. kring..” bunyi telepon Adam yang ke 3 kalinya, tapi belum diangkat, karena ia belum selesai mandi, akhirnya Shinta memutuskan untuk sms Adam, kebetulan Adam selesai amndi handphonenya langsung berbunyi, ia pun langsung membukannya, “ha? Shinta udah nelpon aku 3 kali? Ada sms juga dari dia” celoteh Adam, “Dam, maafin aku ya, aku udah kasar sama kamu, aku sadar kalo kamu ke Jakarta itu bukan karena egois, intinya aku mau minta maaf sama kamu” isi sms Shinta, Adam pun langsung menelopon Shinta, sudah pasti Adam memberi maaf kepada Shinta.
            Keesokan harinya, pengumuman seleksi timnas U-16, Adam terus berdoa, hingga ahirnya “selanjutya yang terpilih adalah.. Chairul Adam” kata paak Andi yang mengumumkan finalis yang terseleksi, “alhamdulillah.. makasih Ya Allah” teriak Adam, Adam pun langsung menelepon orangtua nya, ia juga menelepon Shinta, pagi harinya ia kembali ke Malang semua yang telah terseleksi menjadi pemain timnas U-16 di beri waktu pulang ke rumah masing-masing selama 5 hari, setelah itu kembali lagi ke Jakarta untuk latihan, karena akan menjalani leg uji coba melawan timnas U-16 Filiphina di Jakarta, selama di Malang ia mengadakan syukuran, di tengah-tengah keramaian acara syukuran Adam berkata kepada Shinta “aku akan berusaha menjadi yang terbaik, supaya semuanya bangga” katanya, “aku juga harus mengerti kamu, aku janji nggak akan marah lagi karena sifatku yang ke kanak-kanak an” jawab Shinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar